INSTO Dry Eyes: Untungnya Aku Memilih

Annaenyonghaseyo, Chingu

Setelah sekian bulan, aku kembali lagi dengan untaian cerita indah yang selalu mengelilingi hidupku.

Pekerjaan apa, sih, yang tak bikin capek dan lelah? Kurasa setiap pekerjaan pasti punya resikonya, baik kecil maupun besar. Aku memang bukan wanita karir, bukan pula wanita yang hanya diam di tempat. Aku suka perjalanan, apakah itu menuju kegiatan ataupun hanya sekadar melepas penat.

Sebulan ini hampir setiap hari aku berjalan menyusuri Medan dengan berkendara sepeda motor. Penyusuran ini punya tujuan yaitu mengikuti berbagai pelatihan yang berkaitan dengan tulis menulis. Tentu saja ini sebuah kegiatan yang kerap kulakukan setelah memutuskan berhenti bekerja sejak lima tahun yang lalu. Kupikir sekaranglah waktu yang tepat untuk mengasah kemampuanku itu.

Kalian bisa bayangkan, bagaimana perjalanan yang ku tempuh sendirian dengan mengendarai sepeda motor. Debu dan asap kendaraan adalah teman di sepanjang jalan. Walaupun, aku sudah sangat siap berkendara dengan memakai helm, jaket, kacamata, dan sarung tangan, tetap saja perjalanan itu meninggalkan lelah. Apalagi, tempat pelatihannya belum pernah kutelusuri. Namun, zaman sekarang apa, sih, yang tak bisa? Bermodal Google Maps, aku sampai dengan selamat.

Satu hari aku pernah tersesat saat akan menghadiri pelatihan menulis di daerah yang sebenarnya tidak jauh dari tempat tinggalku. Dibantu oleh Google Maps, aku menemukan jalan pintas yang lebih menghemat waktu menuju tempat pelatihan. Akan tetapi, tak sesuai dugaanku. Jalan pintas itu bukan hanya sepi, melainkan rusak parah. Bebatuan yang sengaja disebar di sepanjang jalan mengeluarkan banyak abu yang menghambat perjalanan.

Aku berhenti di pertengahan jalan karena mataku spontan tertutup. Kupaksa membukanya, tetapi tak berhasil. Aku terus berusaha karena melihat di sekelilingku tak ada seorangpun yang lewat. Apakah ini karena abu dan debu yang masuk ke dalam mata? 

Hampir setengah jam aku duduk di atas jok sepeda motor. Helmku terbuka. Kukedipkan mataku berulang-ulang dan terus-menerus agar air mataku keluar. Namun, tak ada air mata. Apakah air mataku habis? Ah, tak mungkin. Aku jarang menangis, kok, bagaimana bisa habis? pikirku sejenak. Kuulangi sekali lagi mengedipkan kedua mataku, tetapi tetap saja air mataku tidak keluar. Debu yang masuk sungguh menyiksa. 

Melihat jam di handphone sudah menunjukkan waktu acara dimulai, aku pun mengambil langkah untuk mencari apotik atau minimarket terdekat. Pelan-pelan, aku melewati perkebunan sawit yang lebat. Dengan mata yang masih sulit terbuka, akhirnya aku menemukan sebuah minimarket. Aku menuju ke arah rak obat-obatan. Kuperhatikan setiap obat yang berjejer. Sampai akhirnya, aku menemukan merek obat tetes mata yang sering ku gunakan.

Namun, aku terkejut. Ternyata obat itu punya variasi yang belum pernah ku ketahui. Kubaca deskripsi obatnya dan ternyata indikasi umumnya sangat cocok dengan gejala yang ku alami yaitu sebagai pelumas mata. Sadar dengan keadaan mataku yang sedari tadi tak bisa mengeluarkan air mata, aku memilih obat tetes ini.

Setelah INSTO DRY EYES ku teteskan ke mata kanan dan kiriku , pelan-pelan mataku berair dan mulai terbuka. Ah, lega juga. Padahal, sejak setengah jam yang lalu mataku benar-benar tertutup dan kering. 

Apakah melakukan banyak perjalanan menggunakan sepeda motor membuat mataku menjadi SEpet, PErih, dan LElah? Mungkin saja, ya? Untungnya aku memilih #InstoDryEyes dan membawanya dalam setiap perjalanan. Sekarang aku #BebasMataKering . #MataSePeLeJanganSepelein segera Tetesin Insto Dry Eyes , ya! PIlih Insto Dry Eyes untuk menjadi teman dalam perjalananmu!







Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url