DULCE and UTILE: Cerita Anak Harus Menyenangkan dan Bermanfaat
Annyonghaseyo, Chingu
Selamat Tahun Baru Masehi 2026. Semoga di tahun ini hidup kita semua penuh berkah, baik rezeki maupun usia. Amin. Aku sendiri pun ingin sekali menambahkan harapan baru di tahun ini. Walaupun tahun lalu sebahagian harapanku sudah tercapai. Bahkan, beberapanya di luar prasangkaku. Kalau kalian, bagaimana?
Awal tahun ini aku ingin menuliskan beberapa kejadian yang ku alami di tahun lalu. Aku melewatkannya dan hari ini ingin ku bagi dengan kalian.
Cang!
Di bulan Juli 2025, aku kembali terpilih menjadi salah satu peserta Bimbingan Teknis dan Penerjemahan Cerita Anak Dwibahasa Sumatera Utara. Melalui karyaku yang berjudul "Mengapa Tidak Banjir Lagi" yang diterjemahkan ke dalam bahasa Pakpak Bharat yaitu "Kasa Oda Ne Debdeden". Ini adalah revolusi perjalananku selama menulis. Aku sudah terbiasa menulis fiksi dengan genre yang tak jauh-jauh dari romantika, remaja dan dewasa. Namun, saat daerahku Pakpak Bharat, membutuhkan pegiat literasi dari sana, aku dengan sangat siap menjadi salah satu keturunan Boangmanalu bersuku Pakpak yang akan membangkitkan nama sukuku. Itulah mengapa aku banyak belajar menulis cerita anak untuk anak-anak Indonesia, khususnya anak-anak di daerah Pakpak Bharat dan Dairi.
Pada kesempatan itu, aku tidak ingin ada yang terlewatkan selama proses bimbingan dan pelatihan. Dengan narasumber yang luar biasa yaitu Bu Dian Kristiani, penulis cerita anak Nasional, yang sudah menerbitkan ratusan buku cerita anak, menambah semangatku untuk terus belajar menulis. Bahkan, saat harus memaparkan isi ceritaku, aku sangat gugup. Ini sebuah tantangan, pikirku. Aku harus menceritakan kembali cerita yang ku tulis di depan seorang penulis nasional. Rasanya jantungku mau copot, bibirku bergetar-getar, dan tubuhku juga ikut gemetar.
Benar saja. Setelah lima menit berbagi cerita, ternyata masih banyak kekurangan dalam tulisanku tersebut. Aku juga sudah melewatkan poin-poin yang seharusnya ada di dalam cerita agar ceritaku lebih hidup lagi. Untung saja aku lolos menjadi salah satu peserta bimbingan ini. Banyak sekali ilmu kepenulisan, khususnya menulis cerita anak yang baru ku ketahui. Selama ini aku terlalu sombong dengan kepiawaianku menulis cerita fiksi. Namun, hal itu berbanding jauh dari menulis cerita anak.
Menurut Bu Dian, cerita anak itu harus informatif dan menyenangkan atau bahasa gaulnya Dulce and Utile. Memang benar nyatanya. Anak-anak tidak perlu plot twist yang rumit. Mereka hanya menerima logika dan realita. Bagiku menulis cerita anak itu tidak mudah dan tidak segampang menulis novel romantis. Kata-kata yang digunakan harus yang familiar di telinga mereka. Tidak terlalu banyak pribahasa dan alur yang ke sana kemari. Lalu, ada informasi yang akurat di dalamnya. Kupikir aku belum menjadi seorang penulis, kalau belum lolos menulis cerita anak, begitu kata Bu Dian.
Kalian mau tulis cerita apa, Kawan?











